Kebangkitan Jalur Besi Tertua: Dirut KAI Tinjau Reaktivasi Kedungjati-Tanggung Jelang Lebaran 2026
SEMARANG – Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, melakukan inspeksi mendalam ke wilayah Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang pada Kamis (12/2/2026). Kunjungan ini difokuskan pada peninjauan jalur nonaktif relasi Kedungjati–Tanggung, sebuah lintasan yang bukan sekadar rel tua, melainkan monumen hidup sejarah perkeretaapian Indonesia.
Selain memastikan kesiapan operasional menyambut arus mudik Angkutan Lebaran 2026, agenda ini mempertegas komitmen KAI dalam proyek strategis reaktivasi jalur heritage yang memiliki potensi ekonomi masif.
Revitalisasi “Swiss Chalet” dan Warisan Dunia
Jalur Kedungjati–Tanggung bukan sembarang rute. Ini adalah bagian dari pembangunan rel pertama di Indonesia pada tahun 1864. Salah satu daya tarik utamanya adalah Stasiun Tanggung yang memiliki arsitektur khas Swiss Chalet, sebuah gaya bangunan pegunungan Eropa yang langka di Asia Tenggara.
“Jalur ini adalah titik nol sejarah kita. Pelestarian heritage harus berjalan selaras dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Bobby Rasyidin dalam keterangan resminya, Sabtu (14/2/2026).
Analisis Mendalam: Mengapa Jalur Ini Penting?
Untuk memberikan gambaran lebih luas, berikut adalah beberapa poin krusial yang menjadi pembahasan dalam agenda reaktivasi ini:
1. Pengungkit Ekonomi Jalur Rempah & Jati
Wilayah Kedungjati dan Tanggungharjo merupakan sentra pertanian dan kehutanan jati. Dengan jumlah penduduk gabungan mencapai 88.000 jiwa, reaktivasi ini diprediksi akan:
-
Memangkas Biaya Logistik: Mempermudah distribusi hasil bumi (kayu jati dan palawija) menuju pelabuhan atau pasar besar di Semarang.
-
Menekan Angka Pengangguran: Berdasarkan data BPS 2025, angka pengangguran di Grobogan berada di level 3,23%. Pembukaan akses transportasi baru diharapkan menciptakan lapangan kerja di sektor jasa dan UMKM di sekitar stasiun.
2. Konsep “Living Museum” dan Pariwisata Heritage
KAI berencana tidak hanya mengaktifkan kereta penumpang reguler, tetapi juga menjajaki potensi Kereta Wisata Uap atau kereta bertema sejarah. Transformasi kawasan stasiun menjadi pusat kuliner dan kriya lokal akan menghidupkan kembali ekonomi warga yang selama ini terisolasi dari akses transportasi modern.
3. Tantangan Teknis dan Standar Keselamatan 2026
Mengingat jalur ini sudah lama nonaktif, evaluasi teknis mencakup:
-
Penyelarasan Tanah (Soil Stabilization): Mengingat karakter tanah di Grobogan yang cenderung bergerak (ekspansif).
-
Modernisasi Persinyalan: Memadukan bangunan cagar budaya dengan sistem keamanan digital terkini untuk menjamin keselamatan penumpang.
-
Sterilisasi Lahan: Memastikan ruang manfaat jalur (Rumaja) bebas dari pemukiman liar tanpa mengesampingkan pendekatan humanis.
Kesiapan Angkutan Lebaran 2026
Menutup rangkaian kunjungan, Bobby menekankan bahwa fokus jangka pendek tetap pada keamanan masa angkutan Lebaran. Koordinasi dengan manajemen Daop 4 Semarang diperketat, terutama pada pengawasan titik-titik rawan bencana di sepanjang jalur aktif dan penyiapan sarana cadangan.
“Setiap pengembangan jalur harus disertai standar operasional yang ketat agar masyarakat memperoleh layanan yang aman, nyaman, dan berkelanjutan,” tegas Bobby.
